Header Ads

Elektabilitas Gus Ipul Anjlok, PKB Galau

Jelang PILGUB Jatim 2018 suhu kota Surabaya mulai panas. Hal itu seiring dengan masa pendaftaran Balon Kandidat yang akan maju, meskipun pesta demokrasi itu baru akan digelar 27 Juni 2018 mendatang.Tapi aktifitas sosialisasi menuju Jatim 1 sudah marak dimana-mana.

Sejumlah nama kandidat bermunculan dan mulai atau akan mengambil formulir pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur.

Yang terbaru, dan kini menjadi pembicaraan hangat di media sosial adalah larangan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang melarang Khofifah Indar Parawansa maju di Jatim 1.

Larangan ini pun sempat menjadi viral, terlebih hal ini ditanggapi oleh Khofifah Indar Parawansa sebagai sikap hilaf sang Ketum PKB. Meski kemudian di sebut oleh Bu Khofifah sebagai "kegalauan" Cak Imin.

Kegalauan Cak Imin dan PKB ada benarnya. Pasalnya, 5 lembaga survey seperti, Survei The Initiative Institute,  Survei Indikator Politik Indonesia, Survei Poltracking Indonesia, LSPI dan Surabaya Survey Center (SSC) menempatkan elektabilitas Saifullah Yusuf (Gus Ipul) diposisi kisaran 32-35 % persen saja. Tentu, ini sebuah trend yang tidak mendukung bagi seorang incumbent.

Belajar dari kasus Ahok yang saat itu tingkat elektabilitasnya cukup tinggi di kisaran 47 % saja bisa keok, apalagi yang hanya 35 % pasti bukan jaminan suatu mimpi kemenangan merebut Pilgub Jatim 2018. Jadi tidaklah salah jika sejumlah pengamat memprediksi bisa saja terjadi nasib Gus Ipul di Pilgub Jatim akan kandas, alias menyusul Ahok.

Dimata publik Jatim saat ini, ada sejumlah nama yang masih kinclong dan bakal bersaing ketat pada akhirnya, seperti tampilnya Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti, Bu Risma dan  Khofifah Indar Parawansa. Dua srikandi terakhir itu justru jauh lebih di perhitungkan oleh publik Jatim karena keduanya sudah menunjukkan reputasi nasional, bahkan Internasional.

Meski ada nama Kusnadi, Budi 'Kanang' Sulistyono, Abdullah Azwar Anas, Suhandoyo, Nurhayati Assegaf, dan Nurwiyatno tampaknya tak menggeser reputasi tiga kandidat tersebut.

Data terakhir mencatat bahwa tingkat kepuasan publik atas pemerintahan Pakde Karwo dan Gus Ipul berada di angka 50-65 persen.
Namun ini menjadikan posisi incumbent aman. Artinya, posisi Gus Ipul yang merupakan setengah incumbent saat ini belum aman. Gus Ipul memang bukan incumbent murni, karena pasangan Pakde Karwo-Gus Ipul tidak maju kembali seperti halnya Ahok-Djarot. Bisa disebut incumbent murni, jika Gus Ipul didukung oleh Pakde Karwo dan Partai Demokrat.

Sementara Bu Risma, meskipun berkali-kali menyatakan tidak bakal maju pilgub, di Jatim dukungan justru  melonjak pesat elektabilitasnya ke posisi 30,40 persen dari survei sebelumnya di angka 24,31 persen.

Pada catatan survey terakhir, Ibu Khofifah berada di urutan ketiga dengan 22,50 persen atau naik 1 persen dari 21,74 persen. Khofifah sendiri hingga saat ini belum memutuskan maju atau tidak di pilgub Jatim. Seringkali Mensos mengatakan checksound ke masyarakat dan menyamakan frekuensi dengan parpol pendukungnya.

Sebagai Nahdliyin, kita berharap Jatim 1 tetap dipegang warga NU, dan Alhamdulillah semua kandidat yang bakal maju juga santri. Jadi, kenapa mesti galau?

(Hadi's)


Tidak ada komentar


Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.