DKPP: UUD 1945 Mengharapkan Adanya Capres yang Banyak


PortalPilkada.Id |
Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Ashiddiqie mengatakan, dampak dari polarisasi Pilpres 2014 masih terasa hingga sekarang. Bahkan, jika melihat basis massanya, yang terjadi atas panasnya pilkada DKI juga tidak terlepas dari pengaruh tersebut.

"Seolah-olah sejak Pilpres 2014 itu kita belum move on," katanya setelah menghadiri Prakongres II Etika Berbangsa da Bernegara di kantor Komisi Yudisial (KY), Jakarta.

Jika melihat kondisi sekarang, imbuhnya, tidak tertutup kemungkinan pula polarisasi yang terjadi pada Pilpres 2014 dan pilkada DKI bakal berlanjut pada 2019.

Untuk itu, menurut Jimly, konstruksi desain revisi UU Pemilu mendatang harus membuka peluang calon presiden yang terbuka. Harapannya, nanti ada banyak alternatif capres yang bisa dipilih masyarakat.

Desain yang ada dalam UUD 1945, memang mengharapkan adanya capres yang banyak. Karena itu, ada mekanisme dua putaran yang disiapkan.

"Putaran pertama itu memberi ruang untuk banyak calon,” imbuhnya. Kalaupun putaran kedua sisa dua, kurun waktu yang ada di putaran dua tidak terlampau panjang. Di sisi lain, polarisasinya tidak lagi meruncing sejak awal.

Dia menilai, masyarakat Indonesia belum siap dengan pilihan politik yang saling dihadapkan. Akibatnya, kondisinya menjadi panas. Pilihan politik berdampak langsung dengan renggangnya hubungan pertemanan. Sementara itu, jika ada banyak alternatif calon, secara psikologis akan lebih adem.

"Sebaiknya minimal tiga atau empat. Itu cukup beraneka ragam untuk mencerminkan kebinekaan Indonesia," terangnya.

Lantas, apakah presidential threshold harus dihapuskan? Mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menyerahkan ke pansus. Hanya, jika merujuk putusan MK terkait dengan pemilu serentak, partai peserta pemilu berhak mengajukan calon.

"Kasih aja kesempatan luas, toh nanti berkoalisi sendiri jika merasa tidak kuat," demikian Jimly. (*)

0 Response to " DKPP: UUD 1945 Mengharapkan Adanya Capres yang Banyak"

Posting Komentar


Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel