Gemuruh Suara Kader Golkar Jabar Berlanjut, Emil Diultimatum


PortalPilkada.Com |
Meski sudah mengantongi SK dari DPP Golkar Pusat, tampaknya posisi Walikota Bandung Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil belim nyaman benar. Pasalnya, riak gelombang protes di akar rumput kader Golkar masih berlanjut.

Terakhir, badan pengendali dan pemenangan pemilu (Bapilu) DPD Golkar Jabar ikut "mengultimatum" Kang Emil dengan memberi waktu hingga 25 November 2017, untuk memutuskan calon wakil Gubernur dari partai Golkar.

Ketua Bapilu Golkar Jabar M.Q Iswara mengatakan, Emil harus segera metentukan sikap untuk calon wakil Gubernurnya yang harus dari partai Golkar.

Desakan itu ia sampaikan kepada awak media karena dalam waktu dekat ini menghadapi pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018, Golkar harus sudah memiliki agenda.

"Ya, Emil harus bisa menyesuaikan dengan Golkar juga sebaiknya secepatnya memutuskan wakil dari Golkar karena kita juga sudah siapkan jadwal untuk pilgub," kata Iswara di Sekretariat DPD Golkar Jabar Jalan Maskumambang kota Bandung, Selasa (14/11/2017).

Bilamana  hingga akhir bulan November 2017 tidak memutuskan siapa yang akan menjadi wakil Gubernurnya,  maka Golkar juga akan mengambil sikap.

"Jika tidak ditentukan dari Golkar, maka ini juga menjadi keresahan kader. Bahkan bisa jadi mesin partai tidak berjalan. Kemudian saya mendapat kabar untuk wakilnya akan ada kontestasi, yang ini akan membingungkan kader Golkar lagi," pungkas Iswara.

Sementara suara akar rumput, utamanya dari Kader Golkar di kelurahan dan Desa membaca pernyataan-pernyataan Emil tidak konsisten.

Oleh karena itu, kata Iswara, pihaknya tidak mau "cek kosong" Emil hanya diberikan rekomendasi dari DPP Golkar, namun tidak pernah mendatangi  DPD provisni Jabar, terlebih lagi mendatangi kader hingga pengurus kecamatan dan desa.

"Saya khawatir jika Emil masih tidak melakukan konsolidasi dengan Golkar, maka gemuruh kader terus berlangsung," imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Angkatan Muda Siliwangi Pusat Noerry Ispandji Firman angkat bicara terkait hiruk pikuk Pilkada Jawa Barat yang saat ini tengah terjadi. Ia menyoroti sikap politik yang ditempuh oleh DPP Partai Golkar yang mencalonkan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, berpasangan dengan Anggota DPR RI Daniel Muttaqien.

Politisi senior Partai Golkar tersebut minta berkaca pada Pilkada Jawa Barat Tahun 2008 dan 2013. Saat itu, partai besar memajukan kader terbaiknya seperti Ahmad Heryawan, Dede Yusuf, Dani Setiawan, Iwan Sulandjana, Agum Gumelar, Nukman Abdul Hakim, Rieke Dyah Pitaloka, Irianto MS Syaifudin alias Yance dan Tatang Farhanul Hakim.

“Semua berkompetisi dengan sehat, tanpa gesekan yang berarti, tidak saling menyakiti dan semua masih dalam koridor kekeluargaan khas masyarakat Jawa Barat,” tegas Noerry, Senin (6/11) di Sekretariat AMS Pusat, Jalan Braga, Kota Bandung.

Pada gelaran tahapan Pilkada 2018 kali ini, Noerry mengaku tidak menemukan suasana tersebut.

Dia mengatakan Pilkada kali ini tidak memiliki ‘rasa’ Jawa Barat sama sekali. Hal ini dibuktikan dengan pilihan politik yang dilakukan DPP Partai Golkar yang ia nilai cenderung memaksakan keinginan dengan mengusung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

“Kader yang sudah berjuang lama malah tidak direkomendasi oleh partainya. Ini jelas pelanggaran etika. Akibatnya, jutaan kader Partai Golkar meradang dan sakit hati. Kader sendiri kok dibonsai dan dibunuh karakternya. Jangan kita melupakan sejarah, Dedi Mulyadi ini kader terbaik yang bekerja keras untuk partai,” katanya menambahkan.

Berkaca pada konstelasi koalisi di internal partai yang mengusung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Noerry menjelaskan bahwa dukungan Partai Nasdem, PKB dan PPP sudah cukup sebagai tiket untuk maju dalam Pilgub Jawa Barat 2018 mendatang. Baginya, merupakan sikap tidak ksatria saat pria berkacamata tersebut menerima dukungan dari Partai Golkar.

“Ksatria itu selalu bertempur di medan tempur, bukan malah mencuri kuda lawan sebelum perang sehingga lawan tidak bisa bertempur. Jelas ini bukan karakter orang Jawa Barat, orang Jawa Barat itu punya etika,” tegasnya geram.

Mantan pengurus DPD Golkar Jawa Barat pada masa kepemimpinan Yance itu pun mengajak semua pihak menjunjung tinggi etika politik, baginya kepentingan masyarakat Jawa Barat tidak boleh diintervensi oleh orang luar Jawa Barat.

“Tentu tidak boleh, ini Jawa Barat Pak, jangan sampai diintervensi oleh orang luar Jawa Barat,” pungkasnya.

Menanggapi hiruk pikuk kader Golkar Jabar, Ketua DPD Golkar Jabar, Dedi Mulyadi membenarkan hal tersebut. Pasalnya kader Golkar memang harus ada kepastian atas keputusan yang sudah ditentukan oleh DPP.

"Harus ada tindak lanjutnya ke DPD provinsi hingga pengurus kecamatan dan desa," kata Dedi. (Hadi/Rls/Agus3)

0 Response to "Gemuruh Suara Kader Golkar Jabar Berlanjut, Emil Diultimatum"

Posting Komentar


Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel