Petinggi Partai Nasdem Diduga Terlibat Penggandaan Uang, Korban Rugi Ratusan Juta


PortalPilkada.Id |  Tindakan dugaan penipuan bermodus penggandaan uang, yang dilakukan oknum Anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Suparman, asal Partai NasDem, dinilai pengamat politik Universitas Lampung (Unila), Deddy Hermawan disebabkan oleh rekrutmen partai politik yang gagal. Sebab lainnya, rakyat yang kurang cermat dalam memilih, dan biaya politik yang tinggi.

“Prilaku anggota DPRD memang beraneka ragam, ada yang positif dan ada yang negatif, ada oknum dan ada kelompok, tentu saja munculnya oknum tersebut bisa disebabkan banyak variabel, diantaranya rekrutmen parpol yang gagal, rakyat yang kurang cermat dalam memilih, atau biaya politik yang tinggi,” ujar Dosen FISIP Unila, saat di wancarain Media Jumat (15/12).

Menurut Deddy, kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat pemilih, partai politik, DPRD, dan instansi terkait lainnya, untuk senantiasa memperbaiki integritas, komitmen moral, kompetensi, kinerja, dan profesionalisme anggota Dewan.

Dia pun meminta, agar semua dugaan perilaku yang merugikan orang lain, baik pidana maupun perdata, agar diselesaikan secara hukum.

Dia berharap, partai politik (Partai NasDem, red) bisa bersikap proaktif. “Semua informasi dari masyarakat hendaknya segera direspon demi menjaga marwah partai, tidak selalu ada laporan resmi ataupun keputusan hukum,” tandasnya.

Ditambahkannya, bahwa partai politik menjelang pemilu, harus seoptimal mungkin menjaga citra partai dari oknum yang bermasalah baik secara sosial, moral, hukum, dan lainnya.

Sebelumnya diberitakan, dugaan penipuan berkedok penggandaan uang, yang dilakukan oknum Anggota DPRD Lampung Selatan, asal Partai NasDem, Suparman, mulai membuat korban gerah.

Edwin Noor, yang sebelumnya minta namanya untuk dirahasiakan, mulai gerah dengan sikap Suparman, yang dinilainya tidak memiliki itikad baik.

Selama kurang lebih 8 bulan, sejak April 2017, Edwin dan rekannya coba menghubungi dan menemui Suparman, namun yang bersangkutan selalu menghindar dan tak pernah bisa ditemui.

Keluarga Suparman pun seolah bersekongkol menyembunyikan keberadaan Suparman.

“Sejak April 2017, itu terakhir saya memberinya uang, setelah itu, apa yang dijanjikannya tidak terealisasi. Saya sudah habis Rp102 juta untuk mengikuti kemauan dia. Selama 4 bulan dari Januari sampai April, totalnya ya segitu sekitar Rp102 juta itu, untuk akomodasi, makan minum, sewa penginapan, mobil, dan syarat - syarat yang dia minta,” ujar nya

Ia pun merasa heran, karena selama memberikan dana yang dibutuhkan tersebut kepada Suparman, ia seolah menuruti semua yang dikatakan Suparman. Meski, berulang kali penarikan uang secara goib yang dilakukan Suparman, selalu gagal.

"Sampai tiga kali gagal, saya kecewa, saya marah, tapi sampai di rumahnya saya gak bisa marah. Tadinya, saat saya emosi pengen mukul dia, tapi sampai disana cuma ngeteh, ngopi, semua diam, gak ada omongan apa - apa," tuturnya.

Setiap ritual, ungkapnya, ia dimintai Suparman uang senilai Rp20 juta. Uang tersebut diperuntukan guna membeli darah sebagai syarat ritual. “Itu belum dengan sewa mobil, sewa hotel dan konsumsinya. Tiga kali saya yang menyerahkan sendiri, disaksikan juga oleh Sjaherudin Zuber dan Mansyur," jelasnya

Edwin berharap, masalah ini bisa diselesaikan. Karena selama ini, ia menunggu itikad baik dari Suparman. "Nomer telpon Parman dan istrinya masih aktif kok, tapi kalau saya telpon gak pernah diangkat. Informasi terbaru, Parman saat ini di Jakarta, saya berharap lewat partai bisa memfasilitasi dalam penyelesaian masalah ini," pungkasnya.

Diketahui, pasca diberitakan, beberapa orang yang menjadi korban Suparman mulai muncul. Salah satunya adalah Kepala Desa Karangjaya, Suban, Lampung Selatan.

Namun pasca diberitakan, Anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Suparman ini malah menantang korban, untuk melaporkan dirinya ke polisi, terkait tudingan penipuan dengan modus penggandaan uang.

“Suruh (korban, red) lapor polisi, kalau saya bersalah kan ada pengadilan, gak usah bawa - bawa koran, takutnya berbalik ntar,” ujar Suparman, saat dikonfirmasi via ponsel, terkait tudingan penipuan yang dialamatkan kepadanya.

Ia pun mengaku siap, apabila Edwin dan beberapa korban lainnya melaporkan dirinya ke pihak kepolisian. “Ya sudah siap, tapi kalau tidak terbukti, ya (para korban, red) siap - siap aja lapor balik lagi,” ucap politisi Partai Nasdem Lamsel ini.

Saat ditanya kenapa selalu menghindar saat coba ditemui korban, Suparman membantah. “Saya ada terus, di rumah ada, saya gak kabur, saya ada terus, selalu ada di Lampung Selatan, bahkan ada di rumah setiap hari,” akunya.

Disinggung soal uang yang dimintanya dari korban, Suparman kembali membantah. “Uang apa, gak ada, jangan meres, uang apa, nerima uang nggak, buktiin dulu uang apa, bilangin aja jangan meres, mentang - mentang pejabat mau diperes, jangan meres, saya balik meres ntar,” tukasnya.

Kalau dilaporkan ke polisi, ia mengaku malah senang dilaporkan. “Udah paling seneng saya, bilang ya, paling senang saya (dilaporkan),” kata dia.

“Masalah duit itu, saya gak pernah nerima duit, saya bukan dukun, saya ini dewan, jangan meres, gitu aja klarifikasinya ya mbak, saya bukan dukun, saya ini dewan,” ujarnya berulang-ulang dengan logat khasnya.

Ditanya lebih lanjut soal keberangkatannya ke Jakarta, terkait ritual yang dilakukan, ia pun sekali lagi membantah. “Gak ada, buktiin aja, dibuktiin aja dulu,” ujarnya lagi.

Terpisah, Sekretaris DPD Partai Nasdem Provinsi Lampung, Fauzan Sibron saat dihubungi via ponsel, meminta kepada para korban untuk segera melapor ke polisi.

“Partai tetap mengedepankan praduga tak bersalah, pihak kepolisian yang akan memproses selanjutnya, kalau tidak ada proses kesana (hukum, red) kita tidak bisa menindaklanjuti. Kalau ada bukti yang jelas, mengarah ke yang bersangkutan melakukan pidana penipuan, ya kita pecat. Kita tidak main - main, kalau ada yang kriminal, melanggar undang-undang pidana, kita pecat,” tegasnya.

“Silahkan proses secara hukum, kalau merasa dirugikan, lapor ke polisi, tuntut dong, kalau mereka (korban, red) merasa benar, silahkan lapor polisi. Partai, kalau ada bukti - bukti kuat, ya pecat segera,” timpalnya lagi.

Namun, Fauzan mengaku tidak akan mungkin memanggil yang bersangkutan ke partai, lantaran tidak ada laporan secara resmi ke partai. “Siapa yang melapor, siapa yang dirugikan, kalau itu dianggap pidana penipuan, silahkan lapor polisi, ini kan negara hukum. Nanti kita akan cek ke polisi, kalau jadi tersangka, akan kita pecat. Jadi, jangan katanya - katanya, yang korban itu lapor ke polisi, sudah jadi tersangka kita pecat. Kita tidak main-main, bukan saja karena dia Anggota Dewan, tapi semua, kita tegas,” tandasnya.

Ia pun kembali menandaskan, bahwa para korban Suparman untuk segera melapor ke polisi. “Kasih tahu kepada korban - korbannya ya, lapor ke polisi. Nanti kita pecat !,” tegasnya.

Jurnalis : Agus Rahadja, Redaksi Sumatera



0 Response to " Petinggi Partai Nasdem Diduga Terlibat Penggandaan Uang, Korban Rugi Ratusan Juta"

Posting Komentar


Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel